Selasa, 14 Agustus 2018
desakekeran@yahoo.com (0361) 830036
Logo Desa Kekeran

Pendahuluan

Untuk menulis sejarah atau keberadaan suatu desa, amat sulit karena kurangnya data-data tertulis, seperti : Prasasti, Purana, Babad atau yang sejenisnya. Demikian pula sumber pelengkap seperti : bangunan-bangunan, patung dan sejenisnya. Demikian pula informasi dari orang-orang tua yang mendalami tentang ceritra-ceritra lama.

Dalam penulisan Sejarah keberadaan Desa Kekeran, ada disebutkan dalan sebuah lontar, yakni Pasupati Tattwa. Dalam pustaka ini diceritrakan, bahwa pada mulanya pulau Bali adalah pulau yang sunyi dengan hutan belantaranya. Ketika itu ada seorang detya yang bernama Mayasura, bersama-sama dengan para abdinya, tinggal si sebuah hutan. Detya atau raksasa Mayasura dengan amat leluasa berprilaku membunuh-bunuh orang yang datang ke tempat itu termasuk binatang-binatang yang ada dalam hutan, serta menebang kayu-kayu besar dan membakarnya.

Oleh karena keadaan yang sedemikian rupa, maka datanglah Sanghyang Pasupati, sebagai penyelamat alam dan seisinya, menuju hutan yang ditempati oleh Ki Mayasura. Di hutan itulah beliau bertemu dengan dengan Detya Mayasura dengan sifat keraksasaannya, akhirnya Sanghyang Pasupati berperang dengan raksasa tersebut.. Raksasa kalah, lalu Sanghyang Pasupati lalu memberikan nama hutan tersebut “Alas Kekeran”, yang artinya hutan yang angker dan gaib.

Dengan kemenangan Sanghyang Pasupati, lalu beliau mengepal-ngepal tanah (ngepel-ngepel = Basa Bali), berwujud “Lingga”, yang nantinya menjadi Purusada di desa Kapal. Dari tempat itu beliau menancapkan pohon-pohon dadap “Kayu sakti), yang natinya menjadi cikal bakal “Pura dalem Naga Bhumi”. Wilayah hutan Kekeran itu lalu diukur oleh Sanghyang Pasupati, dengan ukuran hasta (tangan), depa (bentangan tangan), tapakan (tapak kaki) dan lampah (ukuran langkah), dijelaskan dalam pustaka Asta Bhumi, Asta Kosala Kosali, yang kita warisi sekarang.

Orang-orang yang mati yang dibunuh oleh Mayasura dan yang mati dalam perang, dikutuk menjadi roh-roh halus (demak), jin, setan, memedi, yang nantinya sebagai penunggu tempat itu, serta tinggal di pinggir hutan, yang berbataskan sungai, tebing dan sejenisnya, seakan-akan sebagai penjaga wilayah hutan  Kekeran. Hal itu terjadi pada tahun “Surya Bhumi Hasti”, tahun 811 Saka/889 Masehi, Sanghyang Pasupati kembali ke Jawa, menuju gunung Sumeru.

Sedangkan dalam Prasasti Dalem Mataram (Tambra Prasasti), ada juga disebutkan bahwa pulau Bali yang sunyi senyap, keadaan tidak menentu, belum adanya adat istiadat, hukum rimba masih berlaku ( Matsya Nyaya), manusia masih hidup berpindah-pindah (nomaden), maka datanglah para pemuka-pemuja dari Jawa, termasuk para Undagi (arsitek), untuk mendirikan rumah, tempat suci, salah seorang dari pemuka itu bernama Dalem Mataram, yang akhirnya meninggal, rupa-rupanya peristiwa ini adanya pendirian Pura Dalem Mataram.

Berdirinya Kerajaan di Bali

Pada masa pemerintahan Raja-Raja Bali Kuno, yakni pada masa pemerintahan Mayadanawa, yang berprilaku tidak mengakui keberadaan Hyang Widhi, mengingkari petunjuk sasta agama. Beliau dibantu oleh patihnya yang bernama Ki Kala Wong dan Ki Beda Wong. Yang akhirnya dapat dikalahkan oleh Hyang Indra (C/I andrabhaya Singha Warmadewa), peristiwa itu terjadi tahun 962 Masehi.

Setelah Mayadanawa dapat dikalahkan, lalu dinobatkanlah Raja Bali Kuno, kira-kira sampai tahun 1343 Masehi. Raja Bali Kuno yang terakhir adalah Astasuraratnabhumibanten (Asta Sura Ratna Bhumi Banten), yang dapat ditaklukan oleh Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada dengan para Arya. Mulai saat itulah Sima Dresta Agama di Jawa masuk ke Bali (Simacara ring Jawi winawaken ring Nusa wangsul), Sistem pemerintahan di Bali dipegang dan dikuasai oleh raja Jawa keturunan Danghyang Kapakisan, yakni Sri Kresna Kapakisan. Demikian juga para Arya Jawa  diberikan hak kekuasaan di masing-masing daerah.

Entah berselang beberapa lama, datanglah orang-orang ke hutan Kekeran, untuk tinggal di tempat itu. Orang-orang tersebut seperti : Ki Pasek Gelgel, Ki Pasek Kebayan, Ki Tohjiwa,Ki Agung Kapasekan, Ki Panataran (keturunan Arya Wang Bang Pinatih), Ki Kubakal, Ki Kadangkan dan Ngukuhin. Hutan Kekeran itu menjadi tempat menetapnya, orang-orang tersebut, akhirnya membangun Pakraman, menjadi Desa Kekeran dan mendirikan beberapa tempat pemujaan.

Dalam perjalanan sejarah Desa Kekeran, pernah berada dibawah kekuasaan Kaba-Kaba, di bawah pimpinan Arya Pudhak (Arya Belog). Tiada berselang lama Desa kekeran direbut dan dikuasai oleh Arya Kenceng, penguasa Tabanan (Silasana). Desa Kekeran oleh penguasa Tabanan,  Arya Kenceng, menyerahkan Desa Kekeran kepada I Gusti Ngurah Sila Penek atau I Gusti Ngurah Batutumpeng.

Pemerintahan I Gusti Ngurah Batutumpeng

Setelah wafat mapatih Ki Batanjeruk, sanak saudaranya berpindah tempat, menuju beberapa desa, karena dikepung oleh musuh, ada yang menuju Besakih, bersembunyi dii bawah pohon Jawa, pada saat itu berbunyilah burung perkutut di atas persembunyiannya, maka diperkirakan tidak ada yang bersembunyi di tempat itu maka selamatlah mereka semuanya. Mulai saat itu ada pesan (bhisama), seketurunannya tidak boleh memakan buah Jawa dan memelihara burung perkutut. Dari tempat tersebut masing-masing mencari tempat perlindungan, I Gusti Agung Oka pindah menuju Karangasem, Rakryan Bebengan menuju desa Bonghaya, I Gusti Ngurah Gunung Nangka, menuju desa Tianyar, I Gusti Tusan, menetap di Den Bukit (Buleleng), tinggal di desa Bungkulan.

Beliau yang tinggal di Bonghaya, yakni Kryan Bebengan kawin dengan putri I Gusti Ngurah Sukehet, berputra 2 orang laki-laki, yang sulung bernama  I Gusti Ngurah Bonghaya dan adiknya bernama I Gusti Batuhaya, kedua-duanya cerdas dan bijaksana. Beliau berguru kepada Pendeta Manuaba dari Sindhu, lalu diberikan anugrah oleh sang pendeta “Pangawin Mahottama”, dengan nama “ Ki Baru Kalang “. Setelah orang tuanya meninggal dan telah diupacarai sesuai ajaran sastra Pitra Yadnya. I Gusti Ngurah Batuhaya, memohon diri kepada kakaknya untuk  bertemu dengan Ki Arya Belog di Kaba-Kaba, akhirnya beliau tinggal di desa Kekeran, lebih dikenal dengan sebutan I Gusti Ngurah Kekeran, dengan nama abhiseka (gelar) I Gusti Ngurah Batutumpeng, I Gusti Ngurah Selapenek nama lainnya. Beliau inilah yang menjadi penguasa, memimpin di desa Kekeran.

Pada masa pemerintahan beliau, desa Kekeran aman sejahtra, pembangunan dapat berjalan lancar, terutama pendirian Kahyangan, pertanian dan tata letak rumah, mengacu tata aturan Kosala Kosali. Beliau dihormati, disegani oleh bawahannya, sehingga tidak ada gangguan, rakyat hidup senang dan bahagia lahir bathin.

Masa Pemerintahan Mengwi

Pada masa pemerintahan I Gusti Agung Putu dengan gelar I Gusti Agung Madhe Agung, yang merupakan raja pertama Mengwi, dalam meluaskan daerah kekuasaannya, beliau ingin menguasai desa Kekeran yang diperintah oleh I Gusti Ngurah Batutumpeng. Sehingga peperangan tidak dapat dielakkan, pada mulanya I Gusti Agung Putu dapat dikalahkan, namun beliau ditinggalkan dalam medan laga dalam keadaan pingsan. Pada hari menjelang malam datanglah Ki Kedwa (turunan Arya Kenceng), datang ke medan laga, dilihatnya I Gusti Agung Putu dalam keadaan pingsan. Ki Kedwa membantunya dengan menutupi badan beliau dengan dedaunan (liligundi), pada saat itu sang raja siuman, lalu menitipkan keris Ki Panglipur kepada Ki Kedwa. Di sinilah beliau berpesan agar keris itu disimpan dan dijaga dengan baik, jika tidak dirinya yang datang untuk mengambil keris itu, hendaknya jangan diberikan.

Esok paginya ada berita bahwa I Gusti Agung Putu masih hidup, maka I Gusti Ngurah Batutumpeng, memerintahkan kepada pasukannya, agar jangan dibunuh karena masih hubungan misan (sepupu) dari pradhana (garis perempuan), sebaiknya diserahkan kepada raja Tabanan sebagai tawanan. Pada suatu saat datanglah I Gusti Bebalang penguasa Marga (Wratmaradesa), menghadap raja Tabanan, ketika itu beliau melihat I Gusti Agung Putu ada di tempat yang berbeda, lalu penguasa Marga memohon kepada raja Tabanan, agar memberikan I Gusti Agung Putu untuk diajak ke Marga. dari Marga beliau memohon anugrah Hyang di gunung Pangelengan (gunung Mangu), dengan kekhusukan samadhi beliau, lalu mendapatkan anugrah Hyangning Mangu Parwata. Sekembalinya dari gunung Mangu, kembali ke Marga, lalu merabas hutan di selatan Marga, dengan pengikut orang-orang pilihan sebanyak 200 orang, lalu menetap di sana, desa itu disebut Bala Hayu (Belayu), bersama dengan I Gusti Ngurah Celuk.

Ketika itu datang I Gusti Ngurah Tangeb menghadap I Gusti Agung Putu, lalu I Gusti Agung Putu memerintahkan agar meminta keris Ki Panglipur kepada Ki Kedwa yang tinggal di Basangtamiang Kapal. Dalam perjalanannya itu Ki Kedwa tidak memberikan keris yang diminta, karena ada pesan I Gusti Agung Putu, Janganlah diberikan kepada orang lain, hanya patut diserahkan kepada diriku ( yan tan ri hastaning hulun, haywa aweha wong lyan). Maka I Gusti Ngurah Tangeb pulang dengan tangan hampa dan menyampaikan hal itu kepada junjungannya. I Gusti Agung Putu, lupa dengan pesannya, beliau marah ingin menyerang Ki Kedwa.

Namun Ki Kedwa, sudah memaklumi hal itu, lalu berangkat menuju Belayu dengan membawa Ki Panglipur, bertemulah beliau di pinggir sungai Sungi, Ki Kedwa menghormat dengan penuh rasa bakti dan menyampaikan permasalahannya. I Gusti Agung Putu baru teringat dengan pesannya, serta berjanji : “agar semua keturunannya, harus mengingat jasanya Ki Kedwa”.

Pindah dari Belayu menuju Ganter dan dari Ganter menuju Bekak, nantinya barulah ke Puri yang sekarang. Dengan kedatangan beliau dan sudah percaya diri atas anugrah Hyangning Pucak Mangu, lalu beliau menyerang Ki Gusti Ngurah Batutumpeng, Ki Gusti Ngurah Batutumpeng mengalami kekalahan dan wafat dalam peperangan. Sanak saudaranya dan para pengikutnya yang tidak mau tunduk kepada I Gusti Agung Putu, melarikan diri ada yang menuju Krambitan (Rabitantaka), gunung Pucuk Biyu (Penebel), ke Geluntung Marga, ada yang ke Gulingan, Penarungan dan ada juga yang kembali ke desa Kekeran. Kekalahan I Gusti Ngurah Batutumpeng, terjadi pada tahun 1732 Masehi.

Dalam Babad Ki Bondan Pangasih, yang bersaudara 4 orang, ada yang tinggal di Mregaya, di Pakambingan, di Sempidi dan terakhir menetap di desa Buduk. Ki Bondan Pangasih mendapat tugas Dalem, untuk menyerang I Gusti Ngurah Batutumpeng, ketika penyerangannya I Gusti Ngurah Batutumpeng, telah dikuasai oleh I Gusti Agung Putu, maka  itu para pasukannya ada yang menetap di Kekeran.

Sehingga desa Kekeran mulai tahun 1732 Masehi, telah menjadi daerah taklukan raja Mengwi.

Pimpinan Desa Perbekel Kekeran

Dalam perkembangan selanjutnya, desa Kekeran pernah berdiri sendiri, dengan pimpinan yang mengatur desa mulai tahun 1910 sampai dengan 1945, di bawah pimpinan I Gusti Putu Natih. Dari tahun 1945 sampai dengan 1965, di bawah pimpinan Si Putu Raka. Namun tahun 1965 keadaan politik di Indonesia dengan adanya G 30 S PKI, desa Kekeran bergabung dengan desa Mengwitani. Dengan Perbekelnya I Gede Rai Dana, dari tahun 1965 sampai dengan tahun 1970. Tahun 1970 sampai dengan 1974, yang menjadi perbekel I Wayan Begeh. Tahun 1974 sampai dengan1981, yang menjadi perbekel I Gusti Ketut Rai Tika. Dari tahun 1981 sampai dengan tahun 1994, perbekelnya I Ketut Ngurah Susila.

Tahun 1994 terjadilh pemekaran, keprebekelan kembali seperti semula, yakni desa Kekeran berdiri sendiri, dengan perbekelnya I Wayan Puger, dari tahun 1994 sampai dengan tahun 2003. Sedangkan tahun 2003 sampai dengan 2014, dipimpin oleh I Nyoman Mindia, S.Sos.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat kiranya diambil beberapa pokok pikiran, yaitu :

  1. Pada mulanya desa Kekeran, adalah Alas Kekeran (Pasupati Tattwa)
  2. Setelah Bali dalam keadaan aman, datanglah warga : Ki Pasek Gelgel, Ki Pasek Kebayan, Ki Pasek Tohjiwa, Ki Agung Kepasekan, Ki Panataran,, Ki Kubakal, Ki Kadangkan dan Ki Ngukuhin, yang merubah Alas Kekeran menjadi Desa Kekeran.
  3. Desa Kekeran dalam perkembangannya, pernah berada dibawah kekuasaan Kaba-Kaba, selanjutnya di bawah kekuasaan raja Tabanan, lalu diserahkan penguasaannya kepada I Gusti Ngurah Batutumpeng.
  4. Mulai tahun 1732 Masehi dengan kalahnya I Gusti Ngurah Batutumpeng, desa Kekeran berada dibawah kekuasaan Mengwi
  5. Demikianlah perkembangan selanjutnya yang telah dapat dicatatkan,sebagai berikut :
    • Tahun 1910 s/d 1945, desa Kekeran, dipimpin oleh I Gusti Putu Natih
    • Tahun 1945 s/d 1965, desa Kekeran dipimpin oleh Si Putu Raka
    • Tahun 1965 s/d 1970, menjadi desa Mengwitani, dipimpin oleh I Gede rai Dana
    • Tahun 1970 s/d 1974, menjadi desa Mengwitani, dipimpin oleh I Wayan Begeh
    • Tahun 1974 s/d 1981, menjadi desa Mengwitani, dipimpin oleh I Gusti Ketut Rai Tika
    • Tahun 1981 s/d 1994, menjadi desa Mengwitani, dipimpin oleh I Ketut Ngurah Susila
    • Tahun 1994 s/d 2003, berdiri desa Kekeran berdiri sendiri, dipimpin oleh I Wayan Puger
    • Tahun 2003 s/d 2014, desa Kekeran, dengan pemimpin/perbekel I Nyoman Mindia S.Sos.

Saran dan Pendapat

  1. Jika diperhatikan perjalanan sejarah, keberadaan desa Kekeran berasal dari Alas Kekeran. Kekeran berarti sesuatu yang rahasia atau gaib. Sebagai pendiri desa Kekeran adalah Ki Pasek Gelgel, Ki Pasek Kebayan, Ki Pasek Tohjiwa, Ki Agung Kepasekan, Ki Panataran, Ki Kubakal, Ki Kadangkan dan Ki Ngukuhin.
  2. Menurut perkembangan sejarah maka dapat disarankan, bahwa desa Kekeran, keberadaannya pada abad ke-XVII. Dengan asumsi, Bali dikuasai oleh Majapahit, pada tahun 1343 Masehi, dengan kedatangan para Arya Jawa ke Bali. Demikian juga berdirinya kerajaan Mengwi diperkirakan tahun 1677 Masehi, karena Kyai Di Madhe/I Gusti Agung Maruti 1668 Masehi, pindah dari Gelgel menuju Jimbaran. Sedangkan yang menjadi raja Mengwi I adalah cucu beliau. Tahun 1717 Masehi, Panji Sakti menyerahkan Blambangan dan Jembrana kepada Mengwi. Wafat I Gusti Ngurah Batutumpeng tahun 1732, mengingat beliau juga diberi gelar I Gusti Ngurah Kekeran.